banner-beranda-smartpreneur
What's OnUMKM
  • 3 mins read

Nut Safir Cookies: Dari Camilan Sehat Rumahan Jadi Oleh-Oleh Ikonik Lombok

Smartpreneur Smartpreneur
  • Feb 20, 2026

Comments views
magzin magzin

Lombok, SMARTpreneur – Strategi UMKM lokal membangun brand kuat, menembus pasar digital, dan memanfaatkan momentum Lebaran
Indonesia tidak pernah kekurangan kuliner khas daerah. Tapi hanya sedikit yang berhasil naik kelas: dari produk rumahan menjadi identitas daerah. Salah satunya adalah Nut Safir Cookies, kue kering berbahan biji-bijian lokal dari Lombok yang kini dikenal sebagai oleh-oleh unggulan Nusa Tenggara Barat.
Cerita ini bukan sekadar kisah jualan kue. Ini kisah tentang positioning, inovasi bahan lokal, transformasi digital, dan keberanian mengubah persepsi pasar.
Berangkat dari Kekhawatiran Orang Tua

Nut Safir Cookies berdiri pada 11 September 2012. Awalnya sangat sederhana: kegelisahan melihat camilan anak-anak yang makin jauh dari kata sehat.
Alih-alih menggunakan tepung biasa dan gula berlebih, produk ini memakai bahan lokal seperti:
kacang hijau
lebui (kacang hitam khas NTB)
mete
biji-bijian lokal lainnya
Sejak awal, tujuannya jelas:
membuat camilan enak, sehat, dan tetap terasa lokal.

Namun, di sinilah tantangan pertama muncul.
Tantangan Besar: Mengubah Mindset Pasar
Masalah terbesar bukan produksi.
Masalahnya adalah persepsi.
Saat itu masyarakat menganggap:
Kue kering = makanan Lebaran
Artinya bisnis hanya ramai 1–2 bulan setahun.

Selain itu ada tantangan lain:
Produk tradisional dianggap “jadul”
Bahan lokal belum punya nilai premium
Belum ada segmen jelas: snack harian atau oleh-oleh?
Jika tidak dipecahkan, usaha akan stagnan selamanya.

Titik Balik: Saat Pandemi Memaksa Berubah
Ketika pandemi COVID-19 datang, penjualan turun drastis.
Toko oleh-oleh sepi. Wisatawan hilang.

Baca Juga: WENINGSLINE: Dari Kain Tradisi Menuju Panggung Dunia

Di sini Nut Safir melakukan perubahan total — bukan sekadar berjualan online, tetapi mengubah cara berpikir bisnis.

  1. Transformasi Digital: Bukan Sekadar Upload Produk
    Banyak UMKM masuk marketplace hanya untuk “hadir”.
    Nut Safir memilih pendekatan berbeda: mengelola digital seperti toko utama.
    Langkah yang dilakukan:
    pengelolaan marketplace profesional
    foto produk standar katalog
    sistem respon pelanggan cepat
    integrasi kanal penjualan
    Hasilnya?
    Penjualan online melonjak ratusan persen.
  2. Branding: Jual Cerita, Bukan Sekadar Kue
    Produk tidak lagi diposisikan sebagai snack biasa.
    Nut Safir membawa narasi:
    bahan lokal Lombok
    resep tradisional
    pemberdayaan perempuan
    oleh-oleh autentik daerah
    Perubahan sederhana ini menggeser positioning dari:
    “kue kering rumahan” → “identitas kuliner Lombok”
  3. Konten Marketing: Menggantikan Penjual di Toko
    Karena pelanggan tidak datang langsung, maka cerita harus datang ke pelanggan.
    Mereka mulai membuat:
    video edukasi produk
    storytelling bahan lokal
    konten budaya Lombok
    cara menikmati produk
    Konten menjadi sales person digital 24 jam.
  4. Customer Engagement: Bangun Relasi, Bukan Transaksi

Strategi berikutnya adalah merawat pelanggan:
program loyalitas
komunikasi personal
layanan responsif
edukasi produk baru

Tujuannya sederhana:
pembeli pertama jadi pelanggan tetap.

Hasilnya: Dari UMKM Lokal Jadi Oleh-Oleh Nasional
Perubahan strategi memberikan dampak besar:
Penjualan online meningkat ratusan persen

Produk dicari wisatawan & pejabat nasional

Masuk toko oleh-oleh di Lombok & Bali

Aktif di website, marketplace, Instagram, TikTok, Facebook, YouTube

Produksi dikerjakan 100% tenaga kerja perempuan lokal

Nut Safir bukan hanya bisnis makanan — tapi mesin ekonomi komunitas.
Strategi Masa Depan: Naik Kelas Lewat Kolaborasi
Setelah fondasi brand kuat, fokus berikutnya adalah ekspansi.
Inovasi Produk Berbasis Riset
Varian baru dikembangkan dari survei pelanggan:
coklat almond
kopi lokal
jagung
lebui premium
Integrasi dengan Pariwisata
Targetnya:
Nut Safir menjadi bagian paket wisata kuliner Lombok.
Artinya wisatawan tidak hanya datang melihat pantai,
tapi membawa pulang rasa daerah.

Sistem Kemitraan Digital
Pengembangan reseller online untuk distribusi nasional tanpa membuka banyak toko fisik.
Pelajaran Bisnis Penting dari Nut Safir Cookies
Kisah ini menunjukkan satu hal penting:
Produk lokal tidak kalah — yang kalah hanya cara menjualnya.

Beberapa insight SMARTpreneur yang bisa ditiru:
Edukasi pasar lebih penting daripada diskon
Cerita meningkatkan nilai jual produk
Digital harus jadi kanal utama, bukan tambahan
Komunitas bisa jadi kekuatan brand
Oleh-oleh terbaik adalah yang punya identitas

Nut Safir Cookies membuktikan bahwa UMKM bisa naik kelas tanpa meninggalkan akar budaya.
Dengan bahan lokal, storytelling kuat, dan strategi digital tepat, produk sederhana bisa menjadi ikon daerah.
Bukan sekadar kue kering.
Tapi simbol bagaimana ekonomi lokal tumbuh dari dapur rumah — lalu menjangkau pasar nasional.

Dan mungkin, di masa depan, ketika orang menyebut Lombok…
yang diingat bukan hanya pantainya.
Tapi rasanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *