Jogjakarta, SMARTpreneur – Di tengah banjir produk fashion massal, muncul satu brand lokal dari Yogyakarta yang memilih jalan berbeda: menghadirkan kacamata dari tanduk kerbau dan domba dengan sentuhan handmade eksklusif. Inilah Kallestory Eyewear, karya Achmad Yusron yang bukan sekadar produk optik — tapi perpaduan desain, budaya, dan seni kriya Nusantara.

Sejak berdiri tahun 2014, Kallestory membawa filosofi bahwa kacamata bukan hanya alat bantu penglihatan, melainkan identitas personal. Setiap frame dibuat manual dengan detail tinggi, menjadikannya lebih dekat ke kategori collectible object dibanding aksesoris biasa.
Dari Kayu ke Tanduk: Awal Eksperimen yang Tak Mudah
Perjalanan Kallestory tidak langsung mulus. Pada awal merintis usaha, Achmad Yusron menghadapi berbagai tantangan besar:
- Eksperimen Material
Awalnya menggunakan kayu, namun ketika material tersebut semakin umum, ia mencari sesuatu yang lebih langka — akhirnya menemukan potensi tanduk hewan sebagai bahan premium. - Produksi Tanpa Sekolah
Tidak ada pendidikan formal membuat kacamata tanduk. Semua dipelajari melalui trial & error, dari membentuk frame hingga finishing kilap alami. - Standar Optik
Kacamata harus tetap memenuhi standar medis:
minus, plus, silinder, tanpa mengorbankan estetika dan kenyamanan. - Branding Produk Mewah
Mengedukasi pasar bahwa produk handmade lokal bisa masuk kategori luxury bukan perkara mudah. - SDM Terbatas
Menghasilkan frame ukuran kecil butuh pengrajin sabar dan presisi tinggi — keterampilan yang sangat langka.
Titik Balik: Belajar Fondasi Bisnis
Setelah mengikuti program Brilianpreneur, Achmad mulai menyusun bisnis menggunakan Business Model Canvas (BMC).
Perubahan penting terjadi:
fokus pada segmen kolektor; positioning sebagai produk budaya; distribusi lebih terarah; merek komunikasi lebih kuat; Dan Kacamata Kallestory tidak lagi dipasarkan sekadar alat optik, tetapi sebagai karya kriya bernilai seni.
Baca Juga: Program Sustainability Grup United Tractors Raih Apresiasi di Fortune Indonesia Summit 2026
Hasilnya: Dari Jogja ke Ajang Internasional
Strategi baru menghasilkan dampak besar:
Permintaan datang dari seluruh Indonesia
Produksi dibatasi hanya 30 pcs per bulan demi kualitas
Konsumen rela waiting list hingga 2 bulan
Menjadi merchandise resmi MotoGP Mandalika
Dianggap sebagai produk budaya handmade eksklusif
Kini pembeli bukan hanya pengguna kacamata, tapi juga kolektor desain.
Kenapa Kacamata Tanduk Jadi Spesial?
Berbeda dengan plastik atau logam, tanduk memiliki karakter unik:
Serat alami berbeda di setiap frame
Ringan dan hangat di kulit
Hypoallergenic (lebih ramah kulit sensitif)
Warna alami tanpa cat kimia
Semakin indah seiring waktu
Setiap frame otomatis menjadi satu-satunya di dunia.
Masa Depan: Dari Produk ke Warisan Budaya
Kallestory menargetkan lebih dari sekadar penjualan.
Rencana Pengembangan
- Penetrasi Nusantara dulu sebelum ekspor
Pasar Indonesia masih sangat luas untuk produk premium lokal. - Inovasi Material
Eksplorasi tanduk kerbau albino hingga tanduk air. - Custom Presisi Tinggi
Produksi berdasarkan foto wajah pelanggan untuk ergonomi maksimal. - Edukasi Keberlanjutan
Tanduk berasal dari hewan tua, bukan hasil penyembelihan khusus. - Karya Budaya
Ditargetkan masuk pameran fashion dan kerajinan dunia.
Kallestory Eyewear menunjukkan bahwa UMKM Indonesia bisa naik kelas bukan dengan produksi massal, tetapi dengan cerita, filosofi, dan kualitas.
Di tangan Achmad Yusron, kacamata berubah menjadi artefak — sesuatu yang dipakai sekaligus diwariskan.
Dan mungkin inilah masa depan fashion premium Indonesia: bukan meniru dunia, tapi memperkenalkan identitasnya sendiri.
