Garit, SMARTpreneur – Berawal dari niat sederhana agar anak-anak menyukai kurma, lahirlah COKUSI, inovasi camilan sehat karya UMKM asal Garut. Produk ini memadukan coklat, kurma premium, dan dodol buah sirsak—kombinasi unik yang belum banyak dikenal pasar. Di balik ide tersebut, ada sosok Wulan Nur Aprilia, pemilik Cokusi yang konsisten meramu cita rasa sekaligus nilai gizi dalam satu gigitan.

Perjalanan COKUSI tidak langsung mulus. Tantangan awal datang dari edukasi rasa kurma untuk anak-anak, keterbatasan akses pasar yang masih bertumpu pada titip jual di toko oleh-oleh lokal, hingga proses produksi manual dengan kemasan sederhana. Di tahap ini, pemahaman terhadap tools bisnis, branding, dan digitalisasi juga masih minim.
Baca Juga:Rahasia Usaha Kuliner Ayam Penyet Bandung Tumbuh Pesat
Titik balik terjadi saat COKUSI bergabung dalam Program UMKM Level-Up Kominfo 2023 dan mendapatkan pendampingan intensif. Melalui penerapan Business Model Canvas, Key Performance Indicator (KPI), serta strategi pemasaran digital, COKUSI melakukan re-branding menyeluruh—mulai dari kemasan modern bersegel (sealer pack) hingga maskot dua anak yang ramah keluarga. Ekspansi pun dilakukan dengan membuka toko oleh-oleh sendiri, mengembangkan Cokusi Adventures Café, serta merambah Levara, brand fashion berbahan kulit domba premium.
Hasilnya nyata. COKUSI kini dikenal sebagai brand lokal Garut yang berbeda dari ikon dodol pada umumnya. Produk diterima lintas generasi, memiliki outlet offline di Sukaregang – Plaza Firenze Garut, merambah pasar luar daerah seperti Jogja dan Semarang, serta telah mengantongi perlindungan HAKI sejak 2015. Bahkan, Bu Wulan memperoleh beasiswa dan pengalaman ke China untuk pengembangan teknologi F&B dan game edukatif.
Ke depan, COKUSI menyiapkan langkah besar: peluncuran game “Cokusi Adventures” (September 2025) sebagai media edukasi interaktif bagi anak dan wisatawan, penguatan ekosistem brand lintas kuliner–fashion–edukasi, ekspansi distribusi nasional, peningkatan kualitas produksi semi-otomatis, serta pengembangan kemasan estetik dengan daya simpan hingga 1 tahun. Fokus utama tetap pada customer experience—agar loyalitas tumbuh bukan hanya karena rasa, tetapi juga cerita dan nilai lokal.
Wulan Nur Aprilia mengatakan,“Bisnis ini adalah usaha keluarga yang ingin kami wariskan ke generasi berikutnya. Kami memulai dari niat sederhana—agar anak suka kurma—dan kini berkembang menjadi usaha terintegrasi. Semoga
usaha ini tidak berhenti.”
