Maluku, SMARTpreneur – Membangun usaha jasa di wilayah kepulauan bukan perkara mudah. Jarak geografis, keterbatasan infrastruktur, hingga skala pasar yang kecil kerap menjadi tantangan utama. Namun pengalaman Andi Abdul Rahman Aziz (Bung Ara) di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, membuktikan bahwa keterbatasan justru bisa menjadi fondasi lahirnya strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan riil masyarakat, Bung Ara mengembangkan beragam lini usaha jasa: hotel bintang 1 dengan 28 kamar, ojek online, logistik/jasa titip, hingga perdagangan. Semuanya tumbuh dari satu prinsip: menciptakan solusi lokal yang relevan dan dapat dipercaya.
Baca Juga:Strategi Inovatif COKUSI— Coklat Kurma Camilan Alternatif Asal Garut
Tantangan Awal: Realitas Usaha di Wilayah Kepulauan
Perjalanan usaha ini tidak lepas dari ujian berat, terutama saat pandemi COVID-19 (2020–2021). Penutupan pelabuhan dan bandara membuat seluruh sektor jasa nyaris berhenti total tanpa pemasukan. Di sisi lain, infrastruktur terbatas dan jumlah penduduk yang relatif sedikit menyulitkan masuknya investasi besar.
Kebiasaan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Layanan digital seperti ojek online belum sepenuhnya dipercaya, terlebih karena pengalaman masa lalu dengan penyedia serupa yang berhenti beroperasi. Belum lagi biaya logistik tinggi—pengiriman dari Jakarta ke Kei bisa mencapai Rp110.000/kg—yang membuat konsumen berpikir dua kali untuk berbelanja dari luar daerah.
Strategi Kunci: Menciptakan Momentum dari Keresahan
Alih-alih menunggu peluang, Bung Ara memilih menciptakan momentum sendiri. Keresahan pribadi akan kebutuhan layanan praktis di Kei menjadi pemicu lahirnya usaha ojek online dan logistik lokal.
Beberapa strategi pembeda yang diterapkan antara lain:
Diferensiasi biaya yang adil
Potongan driver hanya 13–15%
Potongan merchant kuliner 10% (jauh di bawah kompetitor ±30%)
Tanpa biaya tersembunyi dan tarif sesuai regulasi Kemenhub
Kualitas layanan sebagai prioritas utama: cepat, aman, dan bisa dipercaya.
Efisiensi logistik melalui sistem consolidation shipment agar ongkos kirim lebih terjangkau.
Customer engagement emosional: pelanggan diperlakukan sebagai stakeholder, misalnya dengan memposting aktivitas mereka di media sosial untuk membangun kedekatan.
Kontrol operasional ketat: CCTV untuk hotel, tracking system untuk ojek online dan logistik, serta evaluasi rutin.
Hasil Nyata: Tumbuh di Tengah Keterbatasan
Pendekatan tersebut menghasilkan capaian yang signifikan:
Hampir 20.000 unduhan aplikasi ojek online, lebih dari setengah populasi wilayah target.
Sekitar 500 merchant kuliner bergabung.
±250 driver aktif (motor dan mobil).
Volume transaksi hingga 400 order per hari.
Hotel tetap beroperasi stabil berkat perjalanan dinas dan wisata.
Terbentuknya jejaring bisnis lintas sektor yang membuka peluang kolaborasi baru di Kepulauan Kei.
Ide Besar ke Depan: Pariwisata dan SDM Lokal
Ke depan, Bung Ara melihat potensi besar Kepulauan Kei di sektor pariwisata dan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Rencana pengembangan meliputi:
Jasa pemandu wisata, penyewaan alat selam/snorkeling, dan paket wisata lokal.
Penguatan kuliner khas Kei agar mampu menembus pasar luar daerah.
Menarik investor untuk mengolah potensi ikan, udang, lobster, dan rumput laut.
Peningkatan SDM lokal melalui pelatihan kewirausahaan dan layanan berbasis teknologi.
Ekspansi keluar daerah dengan memanfaatkan jejaring diaspora Kei di kota-kota besar.
Pengalaman Bung Ara menegaskan bahwa membangun usaha jasa di daerah kepulauan bukan soal meniru model kota besar, melainkan memahami konteks lokal, berinovasi dari keterbatasan, dan menjaga kepercayaan pelanggan.
“Momentum bisnis tidak selalu datang — ciptakan momentum sendiri, berinovasi dari apa yang sudah ada, perkuat kepercayaan pelanggan, dan pastikan kualitas layanan konsisten,” ungkap Bung Ara.
Sebuah pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin membangun usaha berkelanjutan dari daerah, untuk daerah, dan bersama masyarakatnya.
