Kepada, SMARTpreneur – Omah Lurik Jepara—dipimpin Doni Suryo Prayogo—mengangkat kain lurik sebagai identitas budaya yang relevan di pasar modern. Lurik tidak sekadar “kain”, melainkan value budaya—cerita, identitas, dan kebanggaan—yang dibungkus dalam produk fesyen kekinian.

Usaha ini dirintis Doni Suryo bermula di 2021 (masa pandemi) setelah fase coba-coba brand lain. Tantangan utama yang dihadapi: (1) validasi fokus produk (beralih dari bordir ke tenun lurik), (2) ketersediaan SDM diaktifkan dan koordinasi produksi yang tersebar (pewarnaan, pengikatan, pemintalan dilakukan di rumah-rumah; tenun manual), (3) literasi pemasaran digital yang belum optimal, (4) “perang harga” di pasar umum yang menekan margin dan menekankan nilai budaya. Di tingkat operasi, hambatan terjadi pada praproduksi (pewarnaan/persiapan benang 2–3 minggu) sementara tenun relatif cepat (hingga ±6 meter/hari).
Baca juga: Bunly Mente Snack Populer dari Makassar
Tantangan tersebut dia atasi dengan sejumlah strategi, hasilnya, Market fit membaik: pesanan masuk lintas daerah; motif Toraja hingga endek Bali diproduksi dari Jepara sesuai kearifan lokal.
Kepercayaan merek naik: jejak digital rapi; pernah dikenakan figur publik (menambah bukti sosial).
Produk best-seller jelas: outer/rompi wanita, jaket (termasuk tenun bomber), kemeja pria.
Rantai pasok komunitas: 8 karyawan tetap + ±5–6 pekerja lepas; pemberdayaan desa sekitar menjaga kapasitas dan kontinuitas.
Harga terjangkau & bertingkat: akses masuk (ikat kepala mulai Rp20 ribu) sampai fashion piece (tenun bomber ±Rp350 ribu) sehingga mudah di-bundle dan di-upsell.
Implementasi dan Ide Besar
Hari ini dan ke depan, Omah Lurik yang didukung 8 karyawan tetap + ±5–6 pekerja lepas (rumahan/desa sekitar) dengan praproduksi benang/pewarnaan 2–3 minggu; tenun bisa ±6 m/hari, mengimplementasikan sejumlah program, antara lain:
Program “Lurik Experience” (CX & Edu-Tourism): paket kunjungan showroom + mini workshop “coba menginstruksikan/pewarnaan” (1–2 jam) untuk sekolah/komunitas/korporat. Tujuannya: meningkatkan nilai apresiasi dan konversi pembelian, sekaligus konten UGC.
Katalog Motif Berbasis Cerita: perpustakaan digital per motif (asal-usul, filosofi, palet warna, momen pemakaian). Sertakan “style-card” mix & match untuk milenial/Gen-Z.
Pendapatan Pilar 5 Cara:
Prospek: IG Reels/TikTok 3×/minggu; live shopping tematik “Motif Bulan Ini”.
Tingkat Konversi: konsultasi motif lewat WA + chat template, sebelum dan sesudah penataan.
Transaksi: bundling outer + aksesori kepala; program “repeat order motif musiman” (Lebaran/Natal).
AOV: upsell “custom name tag tenun”, lapisan batik/lurik premium.
Margin: SKU kuras (20/80), fokus motif high-turn & repeatable, dan kontrol waste pewarnaan.
B2B & Institusi: paket seragam komunitas ibadah/organisasi, souvenir dinas pariwisata, merchandise event budaya.
Konsistensi adalah diferensiasi: tetap pada inti (lurik) dan membangun merek di atas nilai budaya; jangan terpancing pivot ke sektor tak terkait saat permintaan turun—alih-alih, kebutuhan pasar dan komunitasnya.
Jual nilai, bukan hanya harga: di pasar umum, kompetisi fungsi & harga sangat keras. Didik pasar tentang cerita, proses, dan keterampilan—di sanalah nilai yang dibayar.
Kolaborasi mempercepat skala: gandeng dinas, rumah BUMN, komunitas fesyen, reseller—ekosistemlah yang mengangkat produk tradisional masuk arus utama.
Inovasi lahir dari pelanggan: mendengarkan kebutuhan, layani custom piece, dan mendokumentasikan jadi koleksi motif baru.
