banner-beranda-smartpreneur
FashionUMKM
  • 3 mins read

Rumah Batik Jinggar: Merawat Tradisi, Menjawab Zaman

Agus Setiadi Agus Setiadi
  • Jan 15, 2026

Comments views
magzin magzin

Yogyakarta, Broadcastmagz – Di tengah derasnya arus fast fashion, Rumah Batik Jinggar hadir dengan pesan yang tegas: “Lestarikan Batik Tradisional Sesuai Tren.” Dalam sentuhan Vitalia Pamungkas (Batik Jinggar, Yogyakarta) batik klasik—yang sarat makna dan proses—bisa tetap relevan bagi gaya hidup generasi muda tanpa kehilangan ruh tradisinya.Batik

Bukan Sekadar Baju, Tapi Proses dan Nilai

Batik bukan hanya soal motif di kain. Yang dilestarikan adalah proses membatik—baik batik tulis maupun batik cap—beserta filosofi di baliknya. Konsumen kini tak lagi sekadar “suka motifnya”, tetapi mulai peduli pada cerita, makna, dan nilai karya. Di sinilah Batik Jinggar mengambil peran: menjaga tradisi, memperbarui desain.

Tantangan Awal: Stigma dan Kompetisi

Berbasis di Yogyakarta—pusat batik dengan persaingan tinggi—Batik Jinggar berhadapan dengan sejumlah tantangan:Stigma batik yang dianggap berat, kaku, dan hanya cocok acara formal.Motif klasik kerap dilabeli “motif simbah-simbah”, kaya makna namun terasa kurang kekinian.Kendala produksi musiman, terutama pengeringan saat musim hujan bagi UMKM yang bergantung cuaca.

Strategi Kunci: Tradisi Dijaga, Desain Diperbarui

Vitalia meramu strategi sebagai paket lengkap bisnis kreatif:

Positioning tegas: motif klasik/kuno diterjemahkan ke desain kontemporer yang lintas generasi.

Signature brand: biru navy monokrom—pembeda dari sogan/cokelat khas Jogja—mudah dipadu dengan jeans, sneakers, dan gaya kasual.

Desain “tidak full motif”: motif alas-alasan (hutan, daun, bunga, binatang) ditempatkan selektif agar tampilan clean.

Wearability: bahan ringan dan adem (katun sifon, rayon, viskose) nyaman untuk mobilitas harian.

Produksi hybrid: kombinasi tulis + cap untuk efisiensi tanpa mengorbankan nilai seni.Kolaborasi sosial: bermitra dengan perajin sepuh (50–80 tahun), menjaga keterampilan lintas generasi sekaligus dampak ekonomi.

Go-digital: hadir di Instagram, TikTok, serta marketplace (Shopee, Tokopedia) untuk edukasi dan perluasan pasar.

Hasil Nyata: Identitas Kuat, Pasar Melebar

Implementasi strategi tersebut membuahkan hasil:

Identitas brand semakin kuat lewat biru navy dan motif klasik modern.

Pemakaian makin luas: dari formal ke santai, semi-formal, hingga harian.

Ekspansi geografis: menjangkau seluruh Indonesia, serta Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Kapasitas tumbuh: dari 1–2 orang menjadi ±7 pengrajin.Batik tulis: ±20–50 pcs/bulan

Batik cap: ±100–150 pcs/bulan

Segmentasi harga memudahkan penetrasi daya beli:

Batik cap/produk: ±Rp400 ribuan

Batik tulis: ±Rp550 ribu–Rp1 juta

Kain premium hingga ±Rp5 juta; busana hingga ±Rp2 juta

Lebih dari itu, ada kemenangan strategis: pasar makin teredukasi—membeli bukan hanya karena indah, tetapi paham proses dan cerita.

Langkah Ke Depan: Inovasi, Global, dan Komunitas

Ke depan, Batik Jinggar menyiapkan sejumlah implementasi penting:

Inovasi operasional anti-musim hujan melalui solar dryer dome (pengering tenaga surya) agar produksi stabil.

Arsitektur produk global (muslim fashion & unisex): tunik, syal, outer pria (jaket/jas) sebagai pilar ekspansi.

Story-selling & community: konten rutin “filosofi motif”, “motif minggu ini”, dan mix & match.

Event strategy: partisipasi di INACRAFT 2026 (4–8 Februari 2026, JCC Senayan) untuk memperluas reseller, buyer korporat, dan internasional.Kolaborasi lintas sektor: dengan desainer, kampus seni, dan brand lifestyle—karena nilai tertinggi ada pada ide.

Pesan Penutup dari Vitalia Pamungkas

Inspirasi bisa datang dari mana saja: jarik simbah-simbah, alam, hingga peristiwa zaman. Melestarikan batik tidak harus kaku—motif klasik bisa tampil modern lewat potong, warna, dan penempatan yang tepat. Dan yang terpenting, kolaborasi adalah kunci: pengrajin punya keahlian, desainer dan brand menjadi jembatan menuju pasar.

Rumah Batik Jinggar membuktikan bahwa ketika tradisi dirawat dan desain menjawab zaman, batik tak hanya lestari—ia kembali hidup.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *