banner-beranda-smartpreneur
What's OnUMKM
  • 3 mins read

Strategi Pengelola Pasar Joyoboyo Kediri Membangun Pasar Tradisional Bisa “Ngangeni”

Smartpreneur Smartpreneur
  • Jan 15, 2026

Comments views
magzin magzin

Kediri, Broadcastmagz – Selama bertahun-tahun, pasar tradisional kerap dicap becek, kumuh, bau, dan “sekadar tempat belanja sayur.” Padahal, bila dikelola secara profesional, pasar tradisional justru dapat menjelma pusat pertumbuhan ekonomi daerah, ruang hidup UMKM, sekaligus destinasi keluarga yang bikin orang ingin datang lagi—dalam bahasa Jawa: ngangeni.

Itulah visi yang diusung Jojohari Lutfi, Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri. Ia berupaya menaikkan kelas pasar tradisional tanpa kehilangan jati diri: tawar-menawar, kedekatan sosial, dan kearifan lokal.

Baca Juga: PASMINI – Pastel Mini, Oleh-Oleh Andalan Purwakarta

Pasar sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Tempat Transaksi
Bagi pengelola, pasar bukan hanya soal jual-beli. Pasar adalah ekosistem tempat pedagang, pengunjung, UMKM, pemerintah, perbankan, hingga komunitas muda bergerak bersama. Konsep yang diangkat adalah wisata belanja keluarga—one stop shopping bernuansa pasar rakyat:
Ibu belanja kebutuhan rumah,
Bapak ngopi sambil menunggu,
Anak punya ruang aktivitas dan bermain.
Pengalaman inilah yang menjadi alasan orang kembali ke pasar.

Tantangan Awal: Mengubah Mindset & Pengalaman
Hambatan terbesar bukan sekadar bangunan, melainkan mindset. Banyak orang—terutama anak muda—enggan ke pasar karena identik dengan bau, kotor, tidak nyaman, hingga rasa tidak aman. Komoditas basah seperti ikan dan unggas pun menuntut pengelolaan ekstra agar higienis.
Jika pasar modern unggul di kenyamanan, maka pasar tradisional harus unggul di pengelolaan + pengalaman, tanpa menghilangkan ruhnya.
Strategi Lapangan ala “Business Coaching”
Walau bukan program coaching formal, langkah-langkah Perumda Pasar Joyoboyo terstruktur layaknya pendampingan bisnis—dari pondasi layanan hingga aktivasi.
A. SDM & Service Excellence
Pelayanan menjadi kunci. SDM dilatih melayani pedagang dan pembeli dengan sepenuh hati—karena tanpa pengunjung, pedagang tak laku; tanpa pedagang, pasar kehilangan nyawa.
B. Kebersihan, Keamanan, Kontrol Harian
Pasar dijaga rapi dan bersih; limbah terkendali; keamanan diperkuat dengan pengawasan dan petugas agar pengunjung merasa aman, bukan sekadar “katanya aman”.
C. Zonasi/Blok yang Tertata
Mengacu standar pasar rakyat: area belanja, ruang aktivitas anak (bahkan latihan sepatu roda), area nongkrong/kopi, serta penguatan komoditas tertentu (misalnya unggas) dengan fasilitas pendukung.
D. Aktivasi Anak Muda: “Skena” di Pasar
Terobosan menarik hadir di Pasar Setoro Betek (lantai 2): area tongkrongan kopi anak muda dengan banyak tenant. Anak muda datang untuk nongkrong—lalu sekalian belanja titipan orang tua. Perilaku berubah karena pengalaman berubah.
E. Kolaborasi Multi Pihak
Pengelolaan pasar bersifat holistik: sinergi dengan dinas terkait, Bank Indonesia, perbankan, OJK, TPID, hingga satgas pangan. Tujuannya digitalisasi transaksi, akses pembiayaan sehat (menekan rentenir), stabilitas harga, dan penguatan program pasar.

Baca Juga:Rahasia Usaha Kuliner Ayam Penyet Bandung Tumbuh Pesat

Dampak Nyata: Pasar Hidup, UMKM Bergerak
Ketika pasar nyaman dan ramai, efek berantainya terasa:
pengunjung meningkat → pedagang laku → pasar hidup.
UMKM memperoleh ruang transaksi stabil (bukan musiman), pasar menjadi wajah ekonomi daerah, mendukung PAD, dan memberdayakan masyarakat.
Yang tak tergantikan oleh mal adalah keunikan lokal. Kuliner tradisional—nasi pecel, cenil/klepon/lopis, nasi jagung, empon-empon—menjadi magnet nostalgia. Pasar pun menjelma tempat “berburu rasa”. Itulah ngangeni.
Ide Besar ke Depan: Pasar sebagai Destinasi
Beberapa praktik yang bisa ditiru pengelola pasar lain:
Pasar ramah keluarga: belanja + ngopi + aktivitas anak.
Aktivasi jam pasar: tidak hanya pagi; hadirkan kuliner malam.
Perkuat zonasi & kebersihan: pengalaman pengunjung adalah “produk utama”.
Keamanan yang terasa.
Digitalisasi & pembiayaan sehat.
Branding berbasis kekhasan lokal: “kalau cari X, ya ke pasar ini.”

Pasar tradisional adalah tulang punggung ekonomi lokal. Menghidupkan ekosistem pasar berarti menggerakkan transaksi, menguatkan UMKM, dan memperkokoh daerah. Pasar juga sekolah kehidupan—tempat belajar komunikasi, membaca karakter, dan seni negosiasi yang tak ditemui di pasar modern.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *