banner-beranda-smartpreneur
What's On
  • 2 mins read

United Tractors Raih Pendapatan Rp58,3 Triliun di Semester I 2026

Smartpreneur Smartpreneur
  • Jul 30, 2026

Comments views
magzin magzin

Jakarta, Smartpreneur – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun pada semester pertama 2026. Capaian ini turun 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp68,5 triliun, terutama akibat melemahnya penjualan emas di PT Agincourt Resources serta perlambatan bisnis alat berat dan pertambangan batu bara sebagai dampak alokasi RKAB nasional yang lebih rendah. Di sisi lain, segmen kontraktor pertambangan masih mampu menopang kinerja berkat penguatan nilai tukar dolar AS.

Laba bersih sebelum memperhitungkan pos non-berulang tercatat Rp4,3 triliun, turun 48% secara tahunan. Penurunan tersebut dipengaruhi berhentinya sementara operasi Tambang Emas Martabe yang menekan penjualan emas, meski tambang tersebut telah kembali beroperasi pada kuartal kedua. Perseroan juga membukukan beban non-recurring sebesar Rp3,3 triliun yang berasal dari penurunan nilai investasi dan kewajiban terkait pemanfaatan kawasan hutan.

Pada segmen alat berat, penjualan Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit, dipicu melemahnya permintaan alat berat sektor pertambangan. Namun, bisnis purna jual tetap tangguh dengan pendapatan suku cadang dan jasa pemeliharaan meningkat menjadi Rp5,5 triliun, menunjukkan kuatnya kontribusi layanan terhadap stabilitas bisnis.

Kontributor terbesar tetap berasal dari segmen kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). Meski volume pemindahan tanah turun 10% menjadi 481 juta bcm dan produksi batu bara klien turun menjadi 67 juta ton, pendapatan segmen ini justru naik 4% menjadi Rp27,2 triliun berkat penguatan kurs dolar AS. PAMA juga terus memperluas portofolio ke sektor emas dan nikel sebagai strategi diversifikasi jangka panjang.

Sementara itu, bisnis batu bara melalui PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources) mencatat penjualan 6 juta ton batu bara, turun 10%, sehingga pendapatan segmen menyusut 4% menjadi Rp12,9 triliun. Adapun segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mengalami tekanan paling besar dengan pendapatan anjlok 66% menjadi Rp2,4 triliun akibat penurunan penjualan emas hingga 82%.

Di tengah tantangan tersebut, UT tetap memperlihatkan optimisme terhadap prospek jangka panjang. Hingga 30 Juni 2026, perseroan telah menyelesaikan pembelian kembali 33,8 juta saham pada tahap ketiga dan melanjutkan program buyback tahap keempat senilai maksimal Rp2 triliun hingga September 2026. Secara kumulatif, UT telah membeli kembali 237 juta saham senilai sekitar Rp7,1 triliun, sebuah langkah yang menegaskan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan sekaligus mendukung stabilitas pasar modal Indonesia.

Share: